Beberapa Contoh Foto Still Life
Rabu, 19 Februari 2014
Senin, 09 September 2013
Etika Komunikasi Untuk Media Kita
Pengertian dan Penjelasan Mengenai Etika Komunikasi Untuk Media Kita
Judul: Etika Komunikasi; Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi
Penulis: Haryatmoko
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: 180 Halaman
Di abad 21 yang oleh Alvin Toffler disebut dengan abad teknologi-informasi ini, media bukanlah barang langka. Hampir dapat dipastikan, sebagian besar masyarakat kita tidak rela melewatkan hari-harinya tanpa membaca koran, mendengarkan radio, dan menonton acara-acara televisi. Media, cetak ataupun elektronik, dengan demikian memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap kehidupan masyarakat (publik) mengingat kehadirannya yang terus-menerus.
Karena pengaruhnya yang besar, media kemudian dibebankan banyak fungsi. Menurut Harold D. Laswell, fungsi media bisa dibagi menjadi tiga. Pertama, media memiliki fungsi sebagai pemberi informasi untuk publik luas tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan penglihatan mereka. Kedua, media berfungsi melakukan seleksi, evaluasi, dan interpretasi atas informasi yang diperoleh. Ketiga, media berfungsi menyampaikan nilai dan warisan sosial-budaya kepada masyarakat.
Selain ketiga fungsi media tersebut, masih perlu ditambahkan sejumlah fungsi lainnya, yaitu: media memiliki fungsi pendidikan, hiburan, kontrol sosial-politik, promosi atau iklan. Fungsi promosi atau iklan yang diperankan oleh media massa itulah yang sejauh ini menjadikan media makin menonjol keberadaannya. Sebab, dengan fungsi yang dimaksud, pemilik dan pekerja media bisa memperoleh keuntungan finansial.
Persoalannya, dalam konteks kekinian dan kedisinian, banyak media kita yang tidak memainkan fungsi idealnya. Dunia media telah habis-habisan diintervensi dan didikte oleh logika pasar, determinisme ekonomi, dan kepentingan politik tertentu. Akibatnya, hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar dan aneka hiburan yang mencerahkan sering tidak dijamin karena adanya pertarungan kepentingan politik dan ekonomi yang lebih dominan.
Bahkan bukan hanya hak publik akan informasi dirugikan, tetapi kecenderungan kuat yang datang dari tuntutan pasar dan politik sempit telah mengubah secara mendasar sistem media (organisasi komunikasi publik) sehingga pertimbangan pendidikan, pencerahan, analisis kritis, dan hiburan yang sehat diabaikan demi keuntungan finansial belaka. Lalu kecenderungan utama pengelola media hanyalah laba, karena logika pasar begitu menentukan tingkat kualitas informasi yang disuguhkan ke hadapan publik.
Fenomena semacam itulah yang telah mendorong Haryatmoko untuk menulis buku ini. Buku Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi ini memberikan analisis mendalam yang membuat kita sadar bahwa komunikasi akan hancur lebur jika media mengikuti dan menjadi instrumen buta bagi kepentingan politik kekuasaan, logika pasar, ekonomi, dan teknologi. Melalui buku ini, Haryatmoko menyerukan agar etika komunikasi menjadi ruh yang mendasari seluruh program media.
Sebagaimana diulas dalam buku ini, minimal ada tiga pertimbangan mengapa etika komunikasi mendesak diterapkan dalam kerja-kerja media (hal. 38). Pertama, media mempunyai kekuasaan dan efek yang dahsyat terhadap publik. Realitas menunjukkan bahwa media ternyata rentan memanipulasi dan mengalienasi publik. Dengan demikian, etika komunikasi dibutuhkan untuk melindungi publik yang lemah dari manipulasi media.
Kedua, etika komunikasi merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab media. Salah satunya adalah mengingatkan tendensi korporatis media besar yang selalu memonopoli kritik, sementara kerja-kerja mereka tidak mau dikritik dengan argumen kebebasan pers. Jangan sampai semua bentuk kritik terhadap media langsung dimasukkan ke keranjang stigma pembatasan atau pengebirian kebebasan pers.
Ketiga, etika komunikasi ingin menghindari dampak negatif dari logika instrumental media. Logika ini cenderung mengabaikan nilai dan makna, yang penting hanyalah mempertahankan eksistensi media di depan publik. Sedangkan tujuan media sebagai sarana pencerahan masyarakat kurang mendapat perhatian. Padahal nilai dan makna melekat pada tujuan suatu tindakan, sedangkan logika instrumental sering menjadikan sarana atau instrumen sebagai tujuan pada dirinya.
ETIKA KOMUNIKASI
Pengertian dan Penjelasan Tentang
ETIKA KOMUNIKASI
1.
Pengertian
Etika ( Etik )
Kata etika berasal dari
bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat
kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok
sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah
dilakukan.lainnya hal nya dengan etiket, Etiket adalah suatu sikap seperti
sopan santun atau aturan lainnya yang mengatur hubungan antara kelompok manusia
yang beradab dalam pergaulan.
2.
Pengertian
Komunikasi
Istilah
komunikasi dari bahasa Inggris communication, dari bahasa latin communicatus
yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan
sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi
tersebut. Menurut Cangara (2007 : 17-21) diantaranya adalah sebuah definisi
singkat dibuat oleh Lasswell bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu
tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan ”Siapa yang menyampaikan, apa
yang disampaikan, melalui apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya”. Lain halnya
dengan Steven, mengemukakan sebuah definisi yang lebih luas, bahwa komunikasi
terjadi kapan saja suatu organisme memberi reaksi terhadap suatu objek atau
stimuli. Apakah itu berasal dari
seseorang atau lingkungan sekitarnya. Misalnya seorang berlindung pada suatu
tempat karena diserang badai, atau kedipan mata sebagai reaksi terhadap sinar
lampu, juga adalah peristiwa komunikasi.
didalam buku karangan Widjaja (2008 : 08) James A.F.
Stoner dalam bukunya yang berjudul Manajemen, menyebutkan bahwa komunikasi
adalah proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara
pemindahan pesan, lalu kemudian John R. Schemerhorn cs dalam bukunya yang
berjudul ”Managing Organization Behavior”,
menyatakan bahwa komunikasi itu dapat diartikan sebagai proses antar pribadi
dalam mengirim dan menerima simbol yang berarti bagi kepentingan mereka.
3.
Etika Komunikasi
Etika
Komunikasi akan mencoba mencari standard etika apa yang digunakan oleh
komunikator dan komunikan dalam menilai diantara teknik, isi dan tujuan
komunikasi. Richard L. Johannesen dalam bukunya etika komunikasi seperti yang
dikutip oleh Karimah dan Uud (2010 : 74) memuat beberapa pertanyaan dasar yang
dipakai untuk menjadi alat ukur membuat penilaian etika komunikasi yang lebih
sistematik, yaitu :
1.
Mampukah saya
menjelaskan dengan tepat apa kriteria, standard atau perspektif etika yang
diterapkan pada saya?
2.
Kepada siapakah
tanggung jawab etis harus diberikan?
3.
Mampukah keetisan
komunikasi ini dibenarkan sebagai refleksi yang melekat pada pribadi komunikator?
Dan masih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan untuk menjadi alat ukur penilaian etika komunikasi. tBerikut
di bawah ini adalah beberapa etika dan etiket dalam berkomunikasi antar manusia
dalam kehidupan sehari-hari :
1. Jujur tidak berbohong
2. Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan
3. Lapang dada dalam berkomunikasi
4. Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik
5. Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
6. Tidak mudah emosi / emosional
7. Berinisiatif sebagai pembuka dialog
8. Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
9. Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan
10. Bertingkah laku yang baik
2. Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan
3. Lapang dada dalam berkomunikasi
4. Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik
5. Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
6. Tidak mudah emosi / emosional
7. Berinisiatif sebagai pembuka dialog
8. Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
9. Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan
10. Bertingkah laku yang baik
Komunikasi
sering kali menjadi masalah karena tidak nyambung dalam penyampaian. Tidak
nyambung ini bias berakibat kepada miss communication / salah pengertian antar
sender dan receiver. Dan hal ini juga dapat dipengaruhi oleh tata karma, sopan
santun, etika dalam berkomunikasi. Mungkin setiap kata sudah terpikirkan dan
diucapkan dengan jelas, namun pasti ada saja yang menjadi hambatan.
Komunikasi menjadi sebuah seni berbicara, dalam berkomunikasi tidak sembarang mengucap, mendengar dan yang menghasilkan bunyi. Jika salah bicara, maka orang yang kita ajak bicara bisa sensitif dan bisa menjadi masalah.
Dalam berkomunikasi ada etika seperti dalam bahasa inggris, yaitu 5W+1H, dengan penjelasan sebagai berikut :
Komunikasi menjadi sebuah seni berbicara, dalam berkomunikasi tidak sembarang mengucap, mendengar dan yang menghasilkan bunyi. Jika salah bicara, maka orang yang kita ajak bicara bisa sensitif dan bisa menjadi masalah.
Dalam berkomunikasi ada etika seperti dalam bahasa inggris, yaitu 5W+1H, dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Who (siapa) : mengetahui siapa
yang akan menjadi lawan bicara kita
2. What (apa) : lawan bicara kita dan
juga kita sendiri juga harus mengetahui apa yang sedang dibicarakan
3. Where (dimana) : melakukan proses
komunikasi harus mengetahui tempat yang tepat.
4. When (kapan) : kita harus
mengetahui waktu yang tepat dalam berkomunikasi
5. Why (mengapa) : kita juga harus
fokus dengan tujuan pembicaraan, menagapa kita harus berkomunikasi, apa sebab
dan alasannya, jangan asal bicara.
6. How (bagaimana) : cara kita menyampaikan sesuatu juga harus sesuai aturan, etika,dan jangan sampai ada salah faham dalam hal penyampaiannya.
6. How (bagaimana) : cara kita menyampaikan sesuatu juga harus sesuai aturan, etika,dan jangan sampai ada salah faham dalam hal penyampaiannya.
Sumber :
Cangara, Hafied. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta:
PT Raya Grasindo Persada.
Widjaja. 2008. Komunikasi & Hubungan Masyarakat, Jakarta
: Bumi aksara.
Karimah, El
Kismiyati dan Uud Wahyudin. 2010. Filsafat
dan Etika Komunikasi,
Bandung : Widya Padjajaran
Artikel Singkat Kepemimpinan
ARTIKEL
MENGENAI KARAKTER
PEMIMPIN IDEAL DAN IDAMAN BANGSA INDONESIA
Karakter yang menurut
saya yang ideal dan dapat menjadi idaman bangsa indonesia adalah pemimpin yang
mampu melaksanakan tugas nya dalam mengayomi warga nya dan dapat
mensejahterakan rakyatnya sendiri. Pemimpin yang baik tidaklah pernah mengambil
sedikitpun uang rakyatnya yang sering disebut dengan korupsi. Dan juga pemimpin
yang benar mendedikasikan dirinya untuk rakyatnya dalam menciptakan dan
mengembangkan segala potensi sumber daya masyrakat agar kehidupan bangsa dan
negaranya mampu untuk berkembang. Dan juga pemimpin dapat turut andil di setiap
kehidupan rakyatnya dengan mereka turun langsung ke lapangan, dengan tujuan
tidak hanya melihat kondisi masyrakatnya namun dapat membantu rakyatnya agar
lebih sejahtera dari kehidupan sebelumnya.
Jika
saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar
biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin,
pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik,
cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita
tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat
pula yang dipimpin.
BERBAGAI UKM di FISIP UNS
ANAK MABA, INI UKM di FISIP UNS YANG PERLU KAMU IKUTI!
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas
Maret (FISIP-UNS) adalah salah satu dari 10 fakultas di Universitas Sebelas
Maret Surakarta. Fakultas ini didirikan pada tahun 1976, bersamaan dengan
diresmikan berdirinya Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret yang
dikukuhkan dengan Keputusan Presiden RI Nomor: 10 Tahun 1976.
Dewan Mahasiswa FISIP UNS adalah
lembaga tertinggi di lingkup Keluarga Mahasiswa FISIP UNS
(KM FISIP) yang mempunyai fungsi
legislatif dan yudikatif dalam kehidupan mahasiswa FISIP.
Tugas DEMA:
1. Menyerap dan merumuskan
aspirasi anggota KM FISIP UNS dan menyalurkan ke BEM FISIP
UNS.
2. Mengawasi dan menilai kerja
BEM dalam melaksanakan ketetapan Sidang Umum dan peraturan
lainnya yang ditetapkan DEMA.
3. Mengawasi dan menilai kerja
BEM FISIP UNS dalam menindak lanjuti aspirasi yang direkomendasikan
kepada BEM FISIP UNS.
4. Mensosialisasikan ketetapan
dan Undang-Undang yang telah ditetapkan DEMA FISIP UNS
kepada pihak-pihak yang terkait.
5. Membuat dan menetapkan
struktur organisasi dan mekanisme kerja DEMA.
6. Mengadakan Sidang Umum.
Badan eksekutif mahasiswa FISIP
UNS dibentuk pertama kali pada akhir oktober 2003 dalam
konggres mahasiswa FISIP 2003.
Dalam student government
FISIP UNS, BEM merupakan lembaga
public atau berperan
sebagai lembaga eksekutif. Mulai
dari terbentuknya BEM FISIP
sudah berganti
kepengurusan(suksesi) sebanyak 8 kali.
Himpunan Mahasiswa Sosiologi
(Himasos) merupakan Himpunan Mahasiswa
Jurusan yang berada di bawah
naungan institusi Fisip UNS yang terbentuk
sejak 28 Mei 1988
Himasos mempunyai 4 bidang Bidang
I; Bidang Penelitian. Bidang II; Bidang Diskusi dan Penalaran. Bidang III; Pers
dan JurnalistikBidang IV; Pengembangan SDM.
Organisasi kemahasiswaan ini
bernama Himpunan Mahasiswa
Administrasi Negara Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret
disingkat HIMAGARA FISIP UNS.
HIMAGARA FISIP UNS berdiri
tanggal 22 November 1990.
tugas dan fungsi dalam struktur
organisasi HIMAGARA FISIP UNS :
1Kesekretariatan Umum2.
Kebendaharaan Umum3. Departemen Kajian Ilmiah (DKI) 4. Departemen Kemahasiswaan
(DKM) 5Departemen Pengembangan Organisasi (DPO)
Langganan:
Postingan (Atom)


